JAMBILIFE.COM— Balok-balok kayu menjadi arena kecil bagi anak-anak PAUD Kota Jambi untuk menguji keseimbangan, keberanian, dan kepercayaan diri. Di Taman Wisata Kampung Rajo, Minggu, 16 Agustus 2026, riuh suara peserta dan orang tua menandai penutupan Festival Lomba Lari Balok tingkat PAUD se-Kota Jambi.

Bunda PAUD Kota Jambi, Dr. dr. Hj. Nadiyah Maulana, Sp.OG, menutup langsung festival yang digelar selama beberapa hari tersebut. Kegiatan ini menjadi bagian dari peringatan Hari Anak Nasional 2026.
Bagi Nadiyah, perlombaan itu bukan perkara siapa yang paling cepat mencapai garis akhir. Lari balok, kata dia, justru menjadi cara sederhana untuk melatih sejumlah kemampuan anak melalui permainan.
“Anak-anak harus mendapatkan ruang untuk bermain, berekspresi dan menunjukkan kemampuannya. Melalui kegiatan seperti ini, kita ingin membangun anak-anak Kota Jambi yang sehat, percaya diri dan bahagia,” ujar Nadiyah.
Di atas balok, anak-anak belajar menjaga keseimbangan. Dalam perlombaan, mereka belajar berkonsentrasi, mengikuti aturan, berani mencoba dan menerima hasil pertandingan. Nilai-nilai itulah yang dinilai penting untuk ditanamkan sejak usia dini.

Nadiyah mengatakan peringatan Hari Anak Nasional semestinya tidak berhenti pada seremoni. Momentum tersebut harus digunakan untuk memastikan anak mendapatkan hak bermain, belajar, dan tumbuh dalam lingkungan yang aman serta menyenangkan.
Ia menyebut pendidikan anak usia dini sebagai fondasi sebelum anak memasuki jenjang pendidikan berikutnya. Pada fase tersebut, pembentukan karakter dan kemampuan sosial-emosional tidak kalah penting dibanding kemampuan akademik.
“Melalui kegiatan yang menyenangkan seperti lari balok, kita sedang menyiapkan pijakan pertama agar anak-anak siap menempuh perjalanan pendidikan dengan percaya diri dan bahagia,” katanya.
Nadiyah juga mengapresiasi panitia Kampung Rajo, Dinas Pendidikan, para pendidik dan tenaga kependidikan PAUD, orang tua, serta masyarakat yang ikut mendukung pelaksanaan festival.
Ia berharap kegiatan yang memberi ruang bagi anak untuk bergerak dan berekspresi itu tidak berhenti pada peringatan Hari Anak Nasional. Festival serupa diharapkan dapat digelar secara berkelanjutan dan melibatkan lebih banyak satuan PAUD.
Pantauan di lapangan, rangkaian acara berlangsung meriah dan mendapat antusiasme peserta. Anak-anak mengikuti perlombaan dengan penuh keceriaan, sementara orang tua dan pendidik memberikan dukungan dari sisi arena.
Penutupan festival kemudian ditandai dengan pemberian apresiasi kepada peserta dan pelepasan balon ke udara. Balon-balon itu melayang, sementara anak-anak meninggalkan arena dengan tawa—menutup sebuah festival yang sejak awal memang dirancang bukan sekadar mencari pemenang, melainkan memberi pengalaman bermain dan belajar yang menyenangkan.(wir)





