JAMBILIFE.COM,KERINCI — Dari sebuah daerah di kaki Gunung Kerinci, lahir seorang tokoh yang kemudian ikut mewarnai salah satu episode penting dalam perjalanan Nahdlatul Ulama (NU).
Tokoh itu adalah Abu Hasan, putra pasangan H. Abdul Aziz dan Hj. Djamaliah. Ia lahir di Kota Sungai Penuh, Kerinci, Jambi, pada 19 Juli 1934.
Masa kecil Abu Hasan dilalui di tanah kelahirannya. Ia mengawali pengabdian sebagai guru SMA sebelum melanjutkan pendidikan ke Amerika Serikat. Di University of Pittsburgh, ia menyelesaikan studi dan memperoleh gelar Master of Public Administration (M.P.A.).
Sepulang dari Amerika Serikat, perjalanan karier Abu Hasan berkembang di sejumlah bidang. Ia pernah dipercaya menjadi Kepala Sekretariat Daerah Provinsi Jambi. Setelah itu, ia juga menekuni dunia kontraktor dan konsultan perusahaan.
Namun, aktivitas profesional tersebut tidak membuatnya meninggalkan lingkungan Nahdlatul Ulama. Abu Hasan tetap aktif dalam organisasi yang menjadi bagian penting dari perjalanan sosial dan keagamaannya.
Nama Abu Hasan kemudian mencuat secara nasional pada Muktamar NU ke-29 di Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 1994.
Dalam muktamar tersebut, Abu Hasan maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Ia berhadapan dengan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Pemilihan berlangsung ketat. Abu Hasan akhirnya kalah dengan selisih sekitar 30 suara.
Hasil pemilihan itu tidak serta-merta mengakhiri persoalan. Ketegangan internal kemudian berkembang hingga muncul kepengurusan PBNU tandingan yang dipimpin kubu Abu Hasan. Kondisi tersebut melahirkan dualisme kepengurusan dan membuat dinamika internal NU menjadi perhatian publik.
Namun, konflik itu pada akhirnya menemukan jalan rekonsiliasi.
Pada Februari 1997, Gus Dur mendatangi kediaman Abu Hasan di Cilandak, Jakarta Selatan. Pertemuan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam penyelesaian perselisihan keduanya.
Keduanya berjabat tangan dan saling berpelukan. Perseteruan yang sebelumnya berlangsung cukup panjang perlahan mencair.
Dalam sebuah wawancara, Abu Hasan menyampaikan pentingnya mengakhiri perselisihan.
“Pak Kiai Gus Dur dengan saya sudah bisa bermaaf-maafan. Silaturahmi ini sangat penting bagi masa depan NU. Bersatu itu lebih benar daripada berselisih,” kata Abu Hasan.
Sebagai bagian dari upaya mengakhiri konflik, Abu Hasan kemudian mencabut berbagai pengaduan hukum yang sebelumnya diajukan terhadap Gus Dur.
Meski demikian, ia membedakan persoalan pribadi dengan persoalan organisasi. Menurut dia, penyelesaian masalah kelembagaan tetap harus ditempuh melalui mekanisme organisasi yang baik.
Perjalanan Abu Hasan juga tidak lepas dari pandangannya mengenai kehidupan berbangsa. Ia dikenal mendukung Pancasila sebagai dasar negara, menjunjung toleransi antarumat beragama, serta menolak kekerasan yang mengatasnamakan agama.
Bagi Abu Hasan, nilai-nilai keislaman semestinya menjadi bagian dari upaya memperkuat persatuan, bukan sebaliknya.
Kisahnya menunjukkan sisi lain dari sebuah kontestasi kepemimpinan. Kekalahan dalam pemilihan tidak menjadi akhir dari hubungan antartokoh. Setelah berada dalam posisi yang berseberangan, Abu Hasan dan Gus Dur akhirnya memilih membuka ruang rekonsiliasi.
Dari Kerinci, Abu Hasan menempuh perjalanan panjang sebagai pendidik, birokrat, profesional, dan tokoh NU. Namanya menjadi bagian dari sejarah organisasi tersebut, terutama ketika NU menghadapi salah satu konflik internal yang cukup besar pada dekade 1990-an.
Abu Hasan M.P.A. mungkin tidak seterkenal Gus Dur di kalangan generasi muda. Namun, perjalanan hidupnya tetap menjadi bagian dari sejarah NU dan perjalanan politik-keagamaan Indonesia.(*)





