JAMBILIFE.COM– Dinamika persepsi publik terhadap kondisi Bank Jambi belakangan menjadi sorotan, menyusul pernyataan tokoh Jambi Usman Ermulan yang menyebut adanya potensi krisis kepercayaan masyarakat terhadap bank daerah tersebut.
Dalam sebuah wawancara yang diunggah melalui akun TikTok *Catatanbangyon*, Usman Ermulan mengungkapkan bahwa kasus yang menimpa Bank Jambi dinilai telah memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. Ia menilai, kondisi tersebut berpotensi berkembang menjadi krisis kepercayaan yang serius.
“Jika kepercayaan masyarakat terus menurun, bukan tidak mungkin hal itu berdampak pada kondisi bank, bahkan bisa mengarah pada kebangkrutan,” ujar Usman dalam wawancara tersebut.
Pernyataan itu pun dengan cepat memicu beragam tanggapan. Beberapa hari berselang, pandangan tersebut langsung mendapat bantahan dari kalangan pengamat ekonomi dan perbankan.
Pengamat ekonomi dan perbankan, Laila Farhat, menilai bahwa isu yang menyebut Bank Jambi berada di ambang kebangkrutan tidak didasarkan pada parameter kesehatan bank yang terukur, serta berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah publik.
Menurutnya, kondisi yang terjadi saat ini tidak dapat dikategorikan sebagai krisis kepercayaan (confidence crisis), melainkan lebih tepat disebut sebagai gangguan sistem layanan yang bersifat sementara dalam kerangka risiko operasional (operational risk).
“Gangguan sistem tidak dapat serta-merta diklasifikasikan sebagai krisis kepercayaan, apalagi insolvency. Dalam kerangka manajemen risiko perbankan, ini masuk kategori operational risk, bukan solvency risk,” jelas Laila.
Ia menegaskan bahwa penilaian terhadap kondisi perbankan harus mengacu pada indikator prudensial yang jelas, seperti tingkat kecukupan modal, kualitas aset, likuiditas, serta manajemen risiko secara keseluruhan, bukan semata-mata didasarkan pada persepsi jangka pendek akibat gangguan layanan.
Perbedaan pandangan ini mencerminkan pentingnya kehati-hatian dalam menyikapi isu sektor keuangan, mengingat persepsi publik memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas industri perbankan, khususnya bank pembangunan daerah seperti Bank Jambi.(*/wir)





